Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Thursday, July 13, 2017

aku yang dulu bukanlah yang sekarang~
saya tidak menemukan lagu lain yang pas untuk mengawali tulisan ini, selain lagu dedek tegar yang mudah-mudahan setegar namanya. baiklah, apa pun lagunya jangan kebanyakan minum teh botol, nanti batuk. alih-alih batuk, saya justru kelihatan mabuk karena telah menulis paragraf yang tidak penting ini. bikin ngantuk!

oke maaf.

tidak adanya kegiatan yang produktif karena saya baru saja lulus, membuat saya menjadi pengangguran. katanya, doing nothing is actually doing a thing. okay. that thing yang selalu saya lakukan setiap hari selain bernapas, ialah berpikir. akhir-akhir ini saya berpikir hal yang belum pernah saya pikirkan akan memikirkannya: menikah.

"astaga, berapa umurmu, adik kecil, sampai berani memikirkan pernikahan?"

saya bahkan belum genap 20 tahun. tapi memikirkan pernikahan bukan berarti ingin lekas menikah, kan? saya anggap teman-teman setuju, biar saya bisa melanjutkan tulisan ini.

saya tidak akan menulis tentang kampanye menikah muda, atau sebaliknya, menentang pernikahan usia muda karena seharusnya banyak hal produktif lain yang bisa dilakukan oleh muda-mudi selain memikirkan--atau bahkan menikah di usia muda. tidak, tenang saja.

sedikit informasi, mungkin suatu hari kamu membutuhkannya, untuk apa? saya tak tahu. saya tumbuh dengan kepribadian melankolis, yang jika sedikit tersentuh saja, saya bisa tenggelam oleh air mata saya sendiri. tentunya pribadi yang demikian tidak lepas dari pengaruh lingkungan sekitar, yang mana ibu saya merupakan melankolis sejati. juga pengaruh film-film roman, mulai roman picisan yang diperankan oleh aktor tidak terkenal, sampai roman berkelas yang diperankan oleh ayang reza rahadian.

tapi aku yang dulu bukanlah yang sekarang. saya mulai menyadari bahwa seiring banyaknya hal (baik dan buruk) yang saya hadapi, jiwa melankolis saya perlahan mulai meluruh. bukan menjadi plegmatis, sanguinis apalagi koleris, hanya saja saya menjadi melankolis yang lebih realistis. sebenarnya saya sudah realistis sejak dulu, namun saat itu realistis merupakan pilihan terakhir ketika saya sudah teramat lelah meresapi, meratapi bahkan menangisi suatu situasi berhari-hari lamanya, sebagai seorang melankolis.

jadi begini, dulu, ketika pernikahan merupakan isu yang belum ingin saya sentuh buru-buru, saya masih menganggap bahwa hubungan lelaki dan perempuan itu mudah. jika sama-sama sayang, teruskan. jika salah satunya tidak, selesaikan. (realistis sekali, kan?) semudah itu. silakan bagi yang ingin memaki saya dan cara berpikir saya di masa putih abu itu.

seorang melankolis selalu menuntut kesempurnaan. maka ketika hubungannya dengan orang lain berakhir, tak masalah, sebab ia merasa akan menemukan yang lebih sempurna. dulu saya juga berpikir bahwa suatu hubungan yang telah usai tak akan bisa dimulai kembali.  sebab akan selalu ada orang yang lebih baik yang mengajak kita untuk memulai hubungan yang lebih baik pula. saya menolak konsep mempertahankan atas nama harga diri. bagi saya, tidak perlu seorang perempuan bertanya "mengapa?" ketika lelakinya sudah berkata "lebih baik pisah saja."

saya selalu bertanya dalam hati, apa rasanya jika dua orang yang telah berpisah kembali lagi menjalin hubungan? dan selalu saya jawab sendiri, it won't work as good as it was. saya menganggap kembali pada mantan kekasih adalah sebuah kesia-siaan yang menyita waktu. jadi saya selalu menolak hal itu.
setelah mulai memikirkan pernikahan, sudut pandang saya mengenai suatu hubungan pun mulai berubah. sedikit, hanya sedikit (sebab saya masih merasa terlalu dini), keinginan saya untuk dipertemukan dengan lelaki yang kelak sanggup memberanikan dirinya untuk meminta restu kepada ayah saya. bukan lelaki yang hanya bisa mengajak saya ber-haha-hihi-huhu tanpa ikatan yang resmi.

maka ketika beberapa bulan lalu saya menjalin hubungan dengan lelaki, saya mencoba menatanya sebaik mungkin. saya menghilangkan standar tentang kesempurnaan. dan mulai mengibaratkan hubungan ini sebagai sebuah proses belajar di sekolah, di mana seorang guru selalu memaklumi muridnya yang salah, bukan memarahi apalagi mengusir muridnya keluar kelas. saya pun menganggap hubungan ini sebagai sebuah proses belajar yang tak pernah berhenti, yang ketika salah satu dari kita salah, maka yang lain akan bersedia memaafkan untuk sama-sama terus belajar.

tapi seorang guru tak pernah memaksa muridnya untuk terus belajar, padahal murid tersebut dengan terang-terangan meminta keluar dari sekolah, kan? maka saya menyerah.

pertama kali dalam hidup saya, mencoba mempertahankan dan langsung disambut dengan sebuah kegagalan. oleh karenanya, penyesalan-penyesalan pun berbaris di depan pintu. ketika saya menyadari bahwa saya pernah melepas yang seharusnya saya pertahankan. dan baru saja berupaya mempertahankan yang ingin lepas. yah, setidaknya saya berusaha. syukurlah, tuhan tunjukkan bahwa ia tidak pantas.

kadang hidup begitu membingungkan. kalau begini, kapan saya menikah?

Asri Ayu Nuryani ©. Powered by Blogger.

Semesta Kata . 2017 Copyright. All rights reserved. Blog Templates Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates