Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Wednesday, May 10, 2017

memuisikanmu?

bagaimana caramu meyakinkan dirimu kalau kau benar-benar telah jatuh cinta?

aku yakin aku telah benar-benar jatuh cinta ketika aku telah berhasil menerjemahkan sosok itu ke dalam kata-kata. setidaknya ke dalam sebait sajak. tak kurang, sebuah buku kuhabiskan untuk memuisikan lelaki sebelum kamu. tiap lembarnya kutulis dengan hati, meski sesekali beberapa lembarnya harus basah ketika kumenulis dalam resah sebab lelakiku berulah.

dan yang terpenting ialah, ia tahu bahwa aku selalu menuliskan tentang dirinya. ia menyukainya. ia bahkan memintaku menulis tentangnya di blog ini. padahal tanpa ia minta, suatu hari pasti aku akan melakukannya. dengan sepenuh hati, sepenuh cinta. gilanya lagi, bahkan setelah memutuskan untuk saling melepas, aku masih ingin menulis tentangnya seolah-olah aku dan ia belum tuntas. lagi dan lagi. tulisan ini salah satu buktinya.


kamu menemukanku ketika aku sedang kehilangan diriku. kamu bertemu aku yang hancur, kosong, tanpa harapan, hilang arah dan tak mampu menulis.  mengenal kamu membuat harapanku yang meredup kembali berpendar, tidak begitu terang, namun cahayanya cukup bagiku. aku pikir mengenalmu dapat membuatku menemukan diriku lagi--setidaknya aku berpikir kau akan membantuku. aku salah. aku semakin kehilangan diriku.

aku terlalu naif untuk mengakui, bahwa aku menyadari hal itu sejak awal. tapi bukankah akan selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain? ternyata tidak ada. aku salah.

aku juga bertanya-tanya, mengapa selama berbulan-bulan tak sepatah kata pun mampu kutuliskan tentang kamu? apa karena aku tak pernah benar-benar cinta? ya tuhan, aku tidak pernah main-main dalam mencintai. itulah mengapa tulisan ini mampu lahir dari rahim kataku sekarang. lihatlah, aku mampu menulis tentangmu juga, sayang.

aku tahu kamu tidak peduli. sebab kamu tidak pernah mengagumi apa yang bisa aku lakukan. kamu tidak menghargaiku sebaik ia menghargaiku. ah, lelakiku yang dulu itu selalu membuatku membandingkannya dengan kamu. sudahlah, tidak berguna.

aku tahu ini cinta. tapi cinta yang keliru. salah sasaran. pengkhianatanmu yang demikian bukan balasan yang benar atas perasaan ini. demi tuhan, kamu satu-satunya orang yang mengempasku dengan demikian buruk. meski aku punya beribu alasan untuk membencimu, aku tak akan melakukannya. bukan karena aku masih cinta, tapi karena kamu pernah menemaniku di titik terendah hidupku. hanya itu, satu-satunya hal yang pantas aku ingat dari kamu. selebihnya, aku berharap tidak pernah mengenalmu.

ini tulisan pertama dan terakhirku tentangmu. selamat tinggal. aku mau mencari diriku lagi, sebelum ia semakin jauh tersesat. selamat tinggal, tuan.

No comments:

Post a Comment