Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Sunday, October 15, 2017

Kids Jaman Now dan Kesantunannya yang Minimalis

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah “kids jaman now” dan apa pula definisinya. Orang-orang mengartikannya sebagai “anak jaman sekarang”. Padahal kata “kids” dalam bahasa Indonesia berarti “anak-anak”, di mana “anak-anak” tidak sama dengan “anak”. Jadi pengalihbahasaannya dirasa kurang tepat. Walaupun memang sejatinya bahasa pergaulan tidak memerhatikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sama pula halnya beberapa lirik lagu berbahasa Inggris yang ditulis tanpa memerhatikan grammar. ((((Masak, sih?)))) Tapi sungguh, bukan keahlian dan kompetensi saya untuk bercakap panjang lebar mengenai kebahasaan. Kita percayakan saja hal tersebut kepada bapak kebanggaan kita, Bapak Ivan Lanin

Monday, October 02, 2017

September Night Project

Pertambahan usia di bulan September lalu berhasil membuat saya sedikit merenung. Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi nihil jawaban, muncul bersamaan dengan angka dua yang mengawali usia baru saya. Dua puluh tahun, saya sudah punya karya apa? Menulis novel nggak pernah rampung, menulis cerpen pun demikian. Terlebih lagi, status saya sebagai fresh graduate  yang belum juga nemu jodoh kerjaan sukses juga bikin saya uring-uringan, nggak betah kalau nggak ngerjain apa-apa. Iya, nganggur. Sip.

Thursday, September 28, 2017

padahal kau datang

padahal kau datang
melayat berpakaian serbahitam
atas kematian sebuah hati
yang dengannya kau pernah rela berbagi nyawa

padahal kau datang
menyaksikan angin--yang menyangsikan
air matamu itu, tuan,

Thursday, July 13, 2017

dulu dan sekarang

aku yang dulu bukanlah yang sekarang~
saya tidak menemukan lagu lain yang pas untuk mengawali tulisan ini, selain lagu dedek tegar yang mudah-mudahan setegar namanya. baiklah, apa pun lagunya jangan kebanyakan minum teh botol, nanti batuk. alih-alih batuk, saya justru kelihatan mabuk karena telah menulis paragraf yang tidak penting ini. bikin ngantuk!

oke maaf.

tidak adanya kegiatan yang produktif karena saya baru saja lulus, membuat saya menjadi pengangguran. katanya, doing nothing is actually doing a thing. okay. that thing yang selalu saya lakukan setiap hari selain bernapas, ialah berpikir. akhir-akhir ini saya berpikir hal yang belum pernah saya pikirkan akan memikirkannya: menikah.

Thursday, May 18, 2017

Yuk Lawan TB!

Assalamu'alaikum. Halo, selamat sore.

Kali ini saya mau membagi pengalaman saya ke temen-temen. Perlu beberapa kali mikir untuk share ini. Sampe akhirnya saya berusaha positive thinking, bahwa siapa tau temen-temen ada yang butuh informasi ini. Dan semoga aja cerita saya ini bisa bermanfaat buat temen-temen. Oh ya, sebenernya ini berkaitan banget sama curhatan saya di sini. (Hehe ketauan deh sekarang.) Selamat membaca!

Oiya, sebelumnya mau kasih tau aja kalau ini tulisan tentang kesehatan, tapi saya sama sekali bukan dari kalangan medis, jadi tulisan ini ditulis berdasarkan apa yang saya alami aja ya. Okay? Okay.

Wednesday, May 10, 2017

memuisikanmu?

bagaimana caramu meyakinkan dirimu kalau kau benar-benar telah jatuh cinta?

aku yakin aku telah benar-benar jatuh cinta ketika aku telah berhasil menerjemahkan sosok itu ke dalam kata-kata. setidaknya ke dalam sebait sajak. tak kurang, sebuah buku kuhabiskan untuk memuisikan lelaki sebelum kamu. tiap lembarnya kutulis dengan hati, meski sesekali beberapa lembarnya harus basah ketika kumenulis dalam resah sebab lelakiku berulah.

dan yang terpenting ialah, ia tahu bahwa aku selalu menuliskan tentang dirinya. ia menyukainya. ia bahkan memintaku menulis tentangnya di blog ini. padahal tanpa ia minta, suatu hari pasti aku akan melakukannya. dengan sepenuh hati, sepenuh cinta. gilanya lagi, bahkan setelah memutuskan untuk saling melepas, aku masih ingin menulis tentangnya seolah-olah aku dan ia belum tuntas. lagi dan lagi. tulisan ini salah satu buktinya.

Wednesday, February 22, 2017

Sepenggal Kisah tentang Perjalanan

Dulu aku sangat ketakutan bila kelak, jika kata “kita” tak lagi bermakna aku dan kau, tak sehuruf pun dari rangkaian namaku diizinkan menumpang di benakmu. Namun ketakutanku koyak, tersundut puntungan mimpi yang kupungut setiap lewat di jalan-jalan.

Aku ingin jadi ini. Aku ingin jadi itu. Aku ingin menjadi apa pun. Sebab kutahu kau akan selalu mengenaliku. Ingin-inginku bahkan belum sempat beranjak dari tempatnya dipanjatkan, tapi kau sudah keburu pergi. Tak apa, aku bisa sendiri.