Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Tuesday, April 12, 2016

Aku tak pernah menyadari bahwa ternyata waktu bergegas begitu lekas. Sebab segala tentangmu masih terasa seperti kemarin.

Kemarin kau masih mengejarku. Kemarin kau masih di pelukku. Kemarin kau bilang kau mencintaiku. Kemarin kau bilang kau mengagumiku. Kemarin yang mana? Ah, itu kemarin yang sudah lama sekali. Memori barumu mungkin tak lagi sudi menyimpan kemarin-kemarinku.

Di suatu kemarin, kau memintaku menemanimu dengan caramu yang tak terduga. Dan seperti yang pernah kukatakan padamu, tanpa kau minta, aku takkan berniat untuk pergi darimu. Aku senang berada di dekatmu, memeluk mimpi-mimpimu, seraya menyelipkan doa di antaranya.

Di suatu kemarin, aku dengan sadar meramu kekecewaan, lalu menyajikannya ke hadapanmu. Kau benar, orang sepertiku seharusnya lebih paham bagaimana menjaga perasaan orang lain. Tapi aku hanya manusia biasa, tempat segala kesalahan bermunculan. Dan kebaikan hatimu masih dengan sukarela memaafkan aku.

Pada kemarin yang lain, kau memutuskan untuk menyudahi perjalanan kita. Kujawab dengan sekali anggukan tanpa bertanya. Ada banyak mengapa di kepalaku. Tapi aku memilih menyimpannya saja, hingga waktu bersedia membuka mulutnya, menjawab pertanyaanku.

Pada kemarin yang lain, kau kembali. Saat itu aku hanya ingin melihat kesungguhan di dirimu. Nihil, kan? Aku tahu. Maka aku menolakmu. Kukatakan padamu bahwa aku akan selalu ada—untukmu. Tapi mungkin kau berlebihan menafsirkan ucapanku. Aku tidak ingkar, kan? Aku selalu ada. Sebab aku menunggumu.

Pada kemarin yang lain lagi, rinduku tak tahu malu. Ia hanya tahu bahwa sudah seharusnya aku meluapkannya padamu. Rinduku yang ini takkan pernah sampai padamu. Sebab sebelum sampai, ia telah lebih dulu terhalang kejujuranmu.

Kau tahu bagaimana rasanya dihempas saat sedang rindu-rindunya? Hancur sekali.

Aku tidak menyesali apa pun. Kau menyadarkan aku bahwa sudah cukup sampai di sini saja, masa aku dan kau sudah habis. Dan selain menerima, aku bisa apa?
Maaf telah membuatmu mendendam. Dan terima kasih telah menuntaskannya.
Sebab batas akhir dari mencintai adalah berhenti mendoakan, maka aku berhenti mendoakanmu.

Aku tidak cukup baik untuk terus mendoakan kebahagiaanmu. Sementara bukan lagi namaku yang kau rapal dalam doamu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Dengan begitu aku tahu, bahwa seseorang yang kini bersamamu lah yang turut mendoakanmu.
Yang baik untuk yang baik. Kau baik. Aku tidak. Lalu apa? Sudah sangat jelas. Aku tahu bagaimana cara mundur perlahan.

Selamat berbahagia, kemarinku.

Asri Ayu Nuryani ©. Powered by Blogger.

Semesta Kata . 2017 Copyright. All rights reserved. Blog Templates Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates