Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Tuesday, December 20, 2016

Kecewa

kecewa; sebuah kata yang sebenarnya takkan cukup untuk membahasakan semua rasa. ini keterlaluan. aku seharusnya marah. atas apa yang begitu melukai hati. atas apa yang kau anggap bukan apa-apa. bagiku, ini semua mahal harganya. (suatu hari kau harus membayarnya.)

tidak, aku tidak mendendam. hanya saja, aku tak yakin lukaku mengering hanya dalam semalam. lagipula begitu kan hukum dari alam? kau hanya akan menuai apa yang kau tanam.

aku seharusnya marah. tapi kau tahu kan, marah tak pernah jadi keahlianku. dan menyoal hati, aku memang bukan yang pandai. tapi aku tahu kapan harus idealis, kapan harus realistis; memangkas segala andai.

kepada sesiapa pun yang hatinya pernah membiru sebabku, aku tengah membayar apa yang pernah kulakukan dulu. kini aku tahu, memercayai seseorang perlu selaksa keberanian. berani untuk dikhianati, berani untuk dicurangi. segala yang kupunya tak cukup untuk memberi harga pada keberanian itu. maka terima kasih telah memberanikan diri untuk percaya. meski akhirnya kecewa kusajikan di atas meja.

aku juga seberani itu percaya. dan sedalam ini kecewa.

Tuesday, July 12, 2016

cerita dari anyer

matahari sedang cerah-cerahnya. angin berembus, bergerak mempermainkan seluruh yang melekat pada tubuhku. ombak menggulung dirinya, berupaya menjangkau aku. kupasrahkan kaki-kakiku, kubiarkan keduanya basah tersapu ombak. ah, begini rasanya pantai.

Wednesday, June 29, 2016

selamat 35 tahun pernikahan

setiap dalam perjalanan pulang, aku menerka-nerka apa yang berubah di rumah. mungkinkah letak pigura yang tegeser oleh angin yang marah? atau mungkin susunan buku-buku di rakku yang murah? atau apakah mawar di halaman masih menguarkan aroma harum?

Monday, June 06, 2016

rumah dan tuannya

selamat malam. bagaimana kabarmu?

maaf telah menghilang begitu saja. aku merasa bersalah telah berharap kau akan pulang ke rumahmu; aku. sedang kenyamanan akan rumah yang baru nampaknya telah melenakanmu.

benar, aku rumah yang pasrah. tiada hakku memilih siapa tuanku. jika kau orangnya, aku siap membuka pintuku untuk kepulanganmu. kapan saja; di tengah malam, ketika hujan badai sekalipun.

Thursday, April 21, 2016

dear, me

dear, me
please be tough. i know that you're stronger than anyone, or even yourself, has ever thought. when the universe seems like an advanced-level-game, please believe that you would be the expert gamer.

dear, me
life is not about having some happinesses. it's all about making those happinesses. sadnesses, sorrows, thunderstorms are the way it shapes you, to be the greatest self of you.

Tuesday, April 12, 2016

Di Suatu Kemarin

Aku tak pernah menyadari bahwa ternyata waktu bergegas begitu lekas. Sebab segala tentangmu masih terasa seperti kemarin.

Kemarin kau masih mengejarku. Kemarin kau masih di pelukku. Kemarin kau bilang kau mencintaiku. Kemarin kau bilang kau mengagumiku. Kemarin yang mana? Ah, itu kemarin yang sudah lama sekali. Memori barumu mungkin tak lagi sudi menyimpan kemarin-kemarinku.

Di suatu kemarin, kau memintaku menemanimu dengan caramu yang tak terduga. Dan seperti yang pernah kukatakan padamu, tanpa kau minta, aku takkan berniat untuk pergi darimu. Aku senang berada di dekatmu, memeluk mimpi-mimpimu, seraya menyelipkan doa di antaranya.

Sunday, January 31, 2016

#1

di hadapan waktu,
kau menjelma senja yang
hanya mau bersitahan
sejenak, dua jenak

di pelukanku,
kau serupa gigil sisa musim dingin
yang menunggu dituntaskan
dengan sebuah kecupan

Bekasi, 2016