Teruntuk sahabatku,

Aku tahu, aku tak bisa selalu ada di sampingmu. Aku tak punya pilihan. Kita sama-sama asyik dengan jalan masing-masing. Belum lagi jarak membentangkan dirinya dengan begitu kokoh di antara kita. Tapi aku tahu, persahabatan kita bahkan telah lebih panjang dari jarak itu sendiri. Maka aku berusaha mengikisnya—jarak itu, dengan pertemuan yang rupanya hanya sederetan wacana tak berkesudahan. Sebab selain jarak, waktu juga selalu menggagalkan pertemuan kita.