Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Monday, September 14, 2015

Bagaimana Cara Menerima?


Belakangan ini aku mudah marah. Aku marah pada hal-hal kecil sekali pun. Namun tetap saja, tak sedikit pun kemarahan itu dapat kuungkapkan. Tak sedikit pun, kecuali dengan tangis. Cengeng? Itu nama tengahku. Biarlah, terserah padamu jika ingin menganggapku baper, seperti yang acap kali dilontarkan remaja kekinian.

Aku marah. 

Pada diriku sendiri.

Ketidakmampuan diriku memberikan kebahagiaan bagi orang lain, rupanya belum cukup untuk membuatku marah. Ketika tak ada lagi hal yang baik yang mampu kau bagikan pada orang lain, bukankah seharusnya kita cukup menerima apa-apa yang ditakdirkan?

Sayangnya, aku tak mampu.

Bila kau menganggap menerima adalah perkara mudah, maka kau keliru.

Sebelumnya, bolehkah kuajukan beberapa pertanyaan padamu? Hanya agar kau paham, betapa menerima kadang jauh lebih sulit daripada memberi.

Kau tahu, apa yang pertama kali kurasakan setiap kali kedua mataku membuka setiap paginya? Apa yang tak ingin kurasakan terakhir kali sebelum mataku menutup setiap malamnya? Sendirian.

Aku sendirian.

Kau tenang saja, aku takkan menyalahkan siapa pun. Karena ini adalah pilihanku. Aku memilih untuk meninggalkan semuanya, demi satu hal yang kupercaya dapat mempertemukan kita di masa yang lebih baik, dalam keadaan yang lebih baik. Maka aku sendirian.

Jika benar semua hal di dunia ini telah diatur sesuai masanya, maka di sinilah aku sekarang, rapuh berdiri pada masa yang berbeda dari masa-masa sebelumnya.

Mungkin bukan masanya lagi, di mana kehangatan menjadi atmosfer yang begitu ramah di rumah. Rumahku kini panas. Kemarau, tak ada pendingin ruangan, hingga kompor ibu yang hampir tak pernah padam di dapur menjadi penyebabnya.

Mungkin bukan masanya lagi, di mana senyum manis, tercetak dari bibir mungil kita kala bermain bersama sebagai sekelompok anak kecil yang tinggal dalam lingkungan yang sama. Jiwa kanak-kanakku rindu setengah mati masa-masa itu.

Mungkin bukan masanya lagi, di mana aku dapat mengenal kalian, teman-teman di masa putih-biru dan putih-abu yang menemaniku tumbuh menjadi seorang gadis yang (kuharap) masih kalian ingat.

Waktu, seberapa pun kejamnya, aku takkan menyalahkan ia. Waktu hanya bergulir, memberi kesempatan padaku, kemudian berlalu. Memang begitu tugasnya. 

Aku hanya marah pada diriku.

Aku tak bisa menerima bahwa kini aku bukan lagi berada di masa-masa itu. 

Aku tak bisa menerima bahwa satu per satu orang yang kusayangi pergi meninggalkan aku begitu saja. 

Aku tak bisa menerima bahwa mereka menjalani masa-masa kini tanpa aku.

Bagaimana cara menerima itu semua?

No comments:

Post a Comment