Jiwa manusia tak melulu tentang putih, tak juga selalu tentang hitam. Setiap manusia, baik dan buruk pada porsinya masing-masing. Mahasempurna Tuhan telah menciptakan semesta dengan seluruh keseimbangannya.

Separuh aku merasa begitu baik—ya, setidaknya di mataku sendiri. Begitu baiknya aku, hingga aku merasa diam-diam Tuhan melekatkan sepasang sayap tak terlihat di punggungku. Tetapi tentu, ini hanya perasaanku saja.

Namun separuh lainnya merasa bahwa diriku hanyalah seorang pemain peran antagonis; jahat, licik, munafik. Buruk sekali, kan? Seakan setiap keburukan yang kubuat turut membakar semangat setan untuk terus menjalankan misinya di bumi: menggoda manusia. Begitu buruk, hingga aku merasa ditertawai oleh separuh diriku yang baik.