Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Thursday, June 26, 2014

Mari Bersyukur!

Malam ini saya menulis ini dalam keadaan lapar, mengantuk, sakit tenggorokan dan sedikit sesak napas karena kedinginan. Sesak napas ini disponsori oleh kegiatan berhujan-hujan ria sore tadi dengan ketiga teman saya. Walaupun tidak benar-benar kuyup karena memakai jas hujan, saya tetap kedinginan.

Jika menuliskan tentang sesak napas ini adalah sebuah keluhan, maka anggap saja saya sebagai si pengeluh. Si pengeluh yang suka mengeluh. Si pengeluh yang tidak pernah merasa cukup. Si pengeluh yang tidak ingat bagaimana cara bersyukur.

Padahal, di luar sana ada orang-orang yang harus membayar untuk bernapas: orang-orang yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tabung oksigen besar di sampingnya. Saya masih bernapas dengan cuma-cuma. Sakit-sakit sedikit seharusnya tidak perlu mengeluh, kan?


Tapi, sungguh, saya tak bermaksud mengeluh (walaupun kelihatannya begitu).

Tiba-tiba saya teringat kata Pak Mario Teguh, bahwa kebanyakan dari kita tidak bisa menyelesaikan masalah karena kita tidak tahu apa masalah yang sedang kita hadapi. Maka name your problem. Namailah masalahmu. Kemudian cari penyebabnya dan selesaikan.

Saya sudah dapat apa nama masalah saya: mengeluhkan banyak hal. “Kok hidup gue gini sih?” “Kok hidupnya dia enak banget.” “Ah, mau mati aja.”

Saya berhenti sampai di situ. Saya tidak pernah tahu apa penyebab munculnya keluhan-keluhan itu, apalagi cara menyelesaikannya. Sampai suatu ketika Sang Mahatahu membisikkan saya, yang tidak tahu apa-apa, bahwa penyebab keluhan-keluhan itu adalah saya yang tidak pernah merasa cukup. Selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Selalu ingin lebih dan lebih.

Kata seorang teman, tidak pernah merasa cukup memang baik untuk beberapa hal, tetapi sangat tidak baik untuk beberapa hal yang lain. Dan saya setuju. Baiknya, ketika kita tidak cukup puas dengan hasil kerja kita, maka itu akan memacu semangat kita untuk lebih giat. Buruknya, (misalnya saja) ketika kita merasa tidak cukup dicintai, maka seharusnya kita sadar, bahwa ada orang yang ingin dicintai juga oleh orang yang mencintai kita.

Ah, cinta lagi, cinta lagi. Saya pusing.

Kalau begitu sama. Saya juga pusing. Tapi, ah, sudahlah.

Bahkan pernah, saya mengeluhkan kecil dalam hati tentang uang saya yang tidak cukup banyak untuk membeli baju-baju. Ternyata dalam perjalanan membeli baju dengan uang yang saya keluhkan jumlahnya itu, saya melihat bapak tua yang sedang kelelahan menarik gerobak yang berisi barang rongsokan. Shit. Saya merasa lebih tak ada harganya dibanding segerobak barang rongsokan itu.

Bisa-bisanya saya mengeluhkan uang yang saya dapat dari orangtua saya. Padahal merekalah yang mencari uang untuk saya. Seharusnya saya berterima kasih tanpa harus mengeluh macam-macam.

Setelah itu saya simpulkan bahwa penyelesaian atas masalah mengeluh menurut saya adalah bersyukur. Ternyata saya hanya perlu bersyukur. Bersyukur atas segala yang saya miliki. Bersyukur atas segala yang diberikan Tuhan. Sesederhana itu. 

Melihat ke atas terkadang menyenangkan. Karena di atas ada mimpi-mimpi yang menunggu untuk  diwujudkan. Dengan melihat ke atas, kita tahu apa-apa saja yang harus kita capai untuk sesuatu yang lebih baik.

Berada di atas juga membuat kita bisa melihat sesuatu di bawah kita. Jangan berpura-pura menutup mata. Lihatlah. Apakah ada yang tertinggal di bawah kita. Apakah ada yang belum sampai ke tempat kita berdiri sekarang.

Karena berada pada ketinggian tidak melulu soal ilmu, derajat dan martabat yang tinggi. Ada sesuatu yang sama-sama kita takutkan akan ikut tinggi pula: hati.

Mari bersyukur! ^^


No comments:

Post a Comment