Malam ini saya menulis ini dalam keadaan lapar, mengantuk, sakit tenggorokan dan sedikit sesak napas karena kedinginan. Sesak napas ini disponsori oleh kegiatan berhujan-hujan ria sore tadi dengan ketiga teman saya. Walaupun tidak benar-benar kuyup karena memakai jas hujan, saya tetap kedinginan.

Jika menuliskan tentang sesak napas ini adalah sebuah keluhan, maka anggap saja saya sebagai si pengeluh. Si pengeluh yang suka mengeluh. Si pengeluh yang tidak pernah merasa cukup. Si pengeluh yang tidak ingat bagaimana cara bersyukur.

Padahal, di luar sana ada orang-orang yang harus membayar untuk bernapas: orang-orang yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tabung oksigen besar di sampingnya. Saya masih bernapas dengan cuma-cuma. Sakit-sakit sedikit seharusnya tidak perlu mengeluh, kan?