Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Thursday, May 01, 2014

Surat Balasan

Aku terbangun dari tidurku, saat anak-anak mulai riuh karena bus yang kami tumpangi dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Bekasi, sudah hampir sampai. Aku mendapati sepucuk surat di samping kursiku yang kosong. Pada bagian depan amplop tersebut tertulis,

To: Asri Ayu N J

Dari tulisannya aku sempat mengira bahwa itu adalah tulisan tangan Putri. Tapi yang kutahu, anak perempuan di kelas diharuskan menulis surat untuk lawan jenis. Tidak mungkin itu tulisan tangan Putri. Entahlah. Kuputuskan untuk menyimpan surat tersebut dalam tas kecilku dan membacanya di rumah.



Sesampainya di rumah, aku membereskan barang-barangku dan mandi. Setelah itu, aku membuka amplop tersebut. Pada bagian kanan atas surat, tertulis tanggal dalam Bahasa Inggris. Aku sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Dugaanku semakin kuat ketika aku membaca surat tersebut yang ditulis dalam bahasa yang campur-campur: Inggris dan Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Evan. :p

Ah, ya, perihal isi surat tersebut, tak usah kutuangkan di sini, ya. Kau hanya perlu tahu garis besarnya saja, saat membaca balasan surat dariku yang akan segera kutulis di sini. Sebelumnya aku sudah meminta izin kepada pengirim surat untuk membalasnya di sini saja. Dan ia setuju. Baiklah.


Thursday, May 1st 2014

Hello, Epan!

Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk mau repot-repot menulis surat untukku.

As your wish, aku membaca suratmu pelan-pelan. Aku juga tak akan membuang surat darimu, tenang saja.

Terima kasih kembali, Epan! Terima kasih juga sudah mau menjadi temanku selama sepuluh bulan ini. Terima kasih sudah mau berjuang bersama-sama menghadapi hafalan Biologi yang sangat banyak, rumus-rumus Fisika dan Matematika yang tidak manusiawi, Bahasa Indonesia yang membingungkan dan Bahasa Inggris yang sama-sama kita gemari, serta yang lainnya. Ya, nanti kita harus rajin ketemu, ya!

Maaf juga kalau aku sering bikin kamu kesel, marah, ngambek. Aku asik? Aku pikir aku adalah orang yang paling membosankan sedunia. Aku juga bingung kenapa kamu bisa se-friendly itu padaku. Padahal kita benar-benar baru mengenal. Aku dan Nufa juga sempat terheran-heran saat kamu menceritakan “duniamu” kepada kami. Kami takut tak bisa menjaga rahasiamu.

Aku bahkan sempat bertanya pada Sirly, yang lebih dulu mengenalmu, mengapa kamu bisa bercerita dengan sangat terbuka pada kami. Sirly bilang kalau kamu takkan bercerita banyak kepada orang yang menurutmu tak benar-benar kamu percaya. Aku tersanjung. Untuk itu, terima kasih telah memercayai aku dan Nufa.

Tapi aku masih penasaran mengapa kamu menulis surat itu untukku. Kamu harus tahu bahwa aku hampir menangis saat membaca suratmu. Maaf, ya. Aku memang agak berlebihan.

Baik. Aku janji akan berubah juga. Hmm, kamu nggak boleh suka sama dokter bedahmu itu lagi. Nggak boleh ada “Omaygat, omaygat!” lagi. (Walaupun itu adalah salah satu yang bakal aku kangenin dari kamu.) Nggak boleh cepet ngambek. Harus stronggggg!

Sudah dulu, ya, Epan. I’ll be missing you.


Warm Regards,


Asri Ayu Nuryani


Bagian terakhir surat dari Evan

No comments:

Post a Comment