Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Wednesday, May 14, 2014

Kejelasan dan Ketidakjelasan

Apakah yang akan kau lakukan jika suatu hari sesuatu yang tidak jelas datang menghampirimu?

Ada orang yang terbiasa dengan sebuah kejelasan. Sebagian ada yang justru cinta dengan ketidakjelasan. Ada pula yang berada di antara keduanya. Bahkan ada pula yang tidak tahu termasuk di bagian manakah dirinya.

Orang-orang yang terbiasa dengan kejelasan akan sangat benci apabila dirinya ditempatkan pada sebuah situasi dan kondisi yang hanya menghadirkan ketidakjelasan. Mereka akan dengan tegas meminta sebuah kejelasan yang berhak mereka dapatkan. Mereka tak mau bersusah payah mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tidak jelas. Dan orang-orang ini juga sudah siap akan hal baik atau buruk yang akan mereka terima begitu mereka mendengar kejelasan yang mereka peroleh dengan atau tanpa diminta.


source

Orang yang cinta dengan ketidakjelasan sebenarnya mustahil ada. Kalaupun ada, mungkin itu adalah bentuk transformasi sikap orang-orang yang benci ketidakjelasan, yang dengan alasan tertentu tak ingin meminta kejelasan. Tapi terlalu enggan untuk mundur. Sehingga mereka diharuskan bertahan pada ketidakjelasan yang entah siapa yang menciptakan. Pada akhirnya, mereka terpaksa cinta akan ketidakjelasan itu.

Tapi kau tahu kan, bahwa setiap orang punya asumsi dan persepsinya masing-masing. Sesuatu yang menurutmu jelas, belum tentu jelas juga menurut orang lain. Ketika kau berpikir segalanya lebih dari jelas, seseorang justru sedang menanti penjelasan dan penegasanmu sebagai pemegang kendali. Begitupula sebaliknya.

Bagi saya, sesuatu yang tidak jelas itu membingungkan, meresahkan. Saya termasuk yang tidak menyukai segala bentuk ketidakjelasan. Tegaskan atau tinggalkan. Sesederhana itu, serumit itu.

Saya tidak bilang bahwa kejelasan dan ketidakjelasan yang saya ceritakan ini adalah perihal masalah hati. Tapi jika kau menganggapnya demikian, silakan saja. Simpulkan menurut sudut pandangmu. Sebagai seorang melankolis, saya memang akan selalu menulis hal-hal yang takkan jauh-jauh dari masalah hati. Toh, segala sesuatu yang kita lakukan juga harus dengan hati, kan? Hahaha.

Tapi sekali lagi, jika kau terlanjur menganggap demikian, maka kita lanjutkan saja. :p

Terkadang cinta tak selalu menuntut sebuah kejelasan. Kita tentu punya hati. Tanpa penjelasan dan penegasan apa pun, seharusnya kau tahu dari cara dan sikapnya memperlakukanmu. Percayalah, jatuh cinta itu membahagiakan. Jangan kau ciptakan kesedihan sendiri dengan sebuah keinginan akan kejelasan.

(Tuhan Yang Mahacinta, maaf bila saya sangat sok tahu tentang cinta.) Sudah, ya. Cukup cinta-cintaannya.

Hidup saya pun tak luput dari hal-hal yang tidak jelas. Samar. Abu-abu.

Hingga suatu hari, saya tiba pada masa di mana segala sesuatu yang samar dalam pikiran saya juga terlihat samar dalam pandangan mata saya.

Hal itu mulai saya rasakan ketika beberapa bulan lalu saya dihadapkan pada kenyataan bahwa mata saya minus. Mungkin ini akibat kebiasaan buruk saya, membaca dengan penerangan yang minimum. Atau mungkin juga akibat saya terlalu sering berkutat di depan laptop. Tapi, saya jarang sekali menggunakan kacamata saya itu. Tidak terbiasa dan hanya membuat pusing. Walaupun sesungguhnya benda itu sangat membantu penglihatan saya.

Ini sangat menyedihkan bagi saya. Memang penyesalan selalu memunculkan dirinya di akhir. Seharusnya saya menjaga mata saya dengan baik. Tapi, bahagia dan sedih itu satu paket, kan? Dan bukankah segala sesuatu yang terjadi itu patut disyukuri?

Maka dari itu saya bahagia dan bersyukur.

Saya memang benci ketidakjelasan. Tapi untuk pertama kalinya, saya mulai mencintai ketidakjelasan. Saya cinta samar, kabur, blur dan buram yang mulai bersahabat dengan saya, begitu saya mengetahui bahwa tanpa kacamata pun kenyataan sudah sepahit itu. Saya tak butuh alat apa pun untuk memperjelas kepahitan itu. Saya tak ingin mati menelan kepahitan dan ditampar kenyataan.

Karena paragraf di atas adalah rentetan kalimat orang pesimis, maka jika saya sedang ingat untuk menjadi optimistis, saya tetap butuh kacamata agar memperjelas kenyataan pahit itu dan menyihirnya menjadi sesuatu yang manis.


Asri Ayu Nuryani,
Pencinta Sekaligus Pembenci Ketidakjelasan

No comments:

Post a Comment