Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Saturday, February 01, 2014

Kenangan

Sebelumnya aku ingin beri tahu sesuatu. Jangan bernegatif thinking soal tulisan ini, ya. Aku sedang baik-baik saja saat menulis ini. Baiklah.

Aku yakin bahwa semua orang punya kenangan tentang suatu hal, suatu benda atau tentang seseorang. Baik kenangan yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Tapi aku bingung. Mengapa orang-orang masih mau untuk repot mengenang sesuatu yang menyedihkan. Mengapa kita tidak mengenang sesuatu yang baik, yang membahagiakan saja? Ya, namanya juga kenangan. Kita akan selalu mengenangnya sekali pun kita tahu bahwa kenangan itu menyakitkan, menyesakkan dan bisa membunuh kita saat itu juga.



Aku agak berlebihan, ya? Belum ada yang dengar berita bahwa seseorang mati tersedak kenangan, kan? Aku pun belum. Hahaha.

Tenang, aku tak akan membahas kenangan yang kupunya. Terlalu banyak sehingga mungkin kau akan bosan bila membaca hal-hal yang seharusnya kukubur dalam peti–atau hati? 

"Aku penasaran, bagaimana nanti aku dikenang." – Gita Sesa Wanda Cantika #SuratKeciluntukTuhan

Aku teringat soal Try Out Bahasa Indonesiaku hari Senin kemarin. Aku sangat senang saat mengetahui ada salah satu puisi favoritku di sana. “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono. Soal itu menanyakan maksud dari puisi tersebut. Aku memang menyukai sastra, tapi kadang aku kesulitan bahkan hanya untuk mencerna maksud dari sebuah karya sastra.

Pilihan jawabannya ada lima. Kujawab pilihan A, yaitu walaupun kelak penulis tiada tetapi penulis tetap hidup menemani lewat puisinya. Dan itulah yang akan membuatnya damai. Setidaknya kesan itulah yang kutangkap saat pertama kali membaca puisi itu.

PADA SUATU HARI NANTI
(Sapardi Djoko Damono) 
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati 
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun disela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

Tuan Sapardi rupanya sudah tahu bagaimana ia akan dikenang bila dirinya tiada kelak. Penggemarnya akan selalu menganggapnya ada dan selalu hidup dalam karya-karya luar biasanya. Beliau masih ada pun, sudah ada yang mengabadikan kata-katanya dalam sebuah akun Twitter, yaitu @SapardiDjoko_ID. Beliau memang tidak punya akun Twitter. Jadi, siapa pun orang di balik akun itu, terima kasih telah dengan tulus mengabadikan penyair hebat itu dalam 140 karakter.

Dan tentang puisi Tuan Sapardi yang tiba-tiba muncul dalam soal Try Out-ku, entahlah. Ada sesuatu yang tiba-tiba menjejali rongga dadaku. Mungkin bisa kusebut itu sebagai kenangan. Tidak perlu kukisahkan di sini. Itu hanyalah kenangan yang kerapkali membuatku uring-uringan setiap mengingatnya.

Lalu bagaimana dengan tokoh Keke di novel atau film Surat Kecil untuk Tuhan. Di sana Keke selalu ingin tahu, bagaimana cara orang-orang mengenangnya saat ia tak lagi ada di dunia. Bagi yang sudah membaca novelnya atau menonton filmnya, kalian pasti tahu, kita mengenang Keke sebagai gadis kuat dan pantang menyerah. Rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarga dan teman-teman juga membuat ia begitu dicintai oleh orang-orang di sekelilingnya. Keke pasti tersenyum bahagia di sana melihat kita semua mengenangnya sebagai kenangan indah.

Dan baru saja aku melihat profil seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya Maret tahun lalu. Seisi alam tahu bahwa ia begitu mencintai kekasihnya. Datanglah ia ke pusara kekasihnya itu setiap tanggal 20 –hari jadi mereka. Dihiasnya tempat peristirahatan terakhir kekasihnya itu dengan ratusan kelopak mawar merah muda yang ditata membentuk gambar hati. Tak ketinggalan, satu buket mawar diletakkan tepat di depan batu nisan yang kokoh berdiri. Cantik sekali.

Tapi doalah yang jauh lebih dari itu.

Lalu, aku? Bagaimana denganku? Aku pun ingin tahu, dengan cara apa orang-orang akan mengenangku. Apakah aku akan menjadi kenangan yang menyenangkan atau menyedihkan? Manis atau pahit? Indah atau buruk? Apakah orang-orang melengkingkan senyum di bibirnya saat mengingatku? Atau mereka justru menitikkan air mata? Tentu akan sangat menyedihkan bila ternyata pilihan kedualah yang menjadi jawabannya.

Dan apakah aku akan terlupakan dengan mudahnya?

Aku bukanlah seorang penyair. Aku takkan bisa membuat puisi seindah puisi Tuan Sapardi. Takkan ada yang mengenangku lewat puisi.

Aku mungkin takkan sekuat Keke. Mungkin takkan sekuat orang-orang yang mengalami hal serupa seperti Keke. 

Kekasih? Aku tak punya. Hahahaha.

Aku tidak tahu dengan cara apa Tuhan menghentikan nadiku, detak jantungku, nafasku. Apa pun itu, kenanglah aku sebagai yang terindah. Jangan hilangkan aku dari ingatanmu. Jangan biarkan aku hilang dari pikiranmu. Sisakan untukku sedikit ruang di hatimu. Tak perlulah kaubawa kenangan tentang aku. Itu hanya akan memberatkan perjalananmu. Cukup simpan aku sebagai yang terkenang.

Aku berjanji untuk tak hanya meminta, tapi aku pun berusaha untuk menjadi yang pantas untuk dikenang.

Asri Ayu Nuryani

2 comments:

  1. OyaAllah. aku akan mengingatmu sebagai salah satu penghias hidupku :"D

    ReplyDelete