Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Thursday, September 18, 2014

Suatu Hari.....

Apa kabar, teman?

Sekarang aku resmi menjadi mahasiswa. Sekarang kita mahasiswa.

Panjang sekali perjalananku sebelum akhirnya sampai ke sini. Berkali-kali aku jatuh. Tanpa pernah lelah untuk bangkit. Entah di bangkit yang ke berapa, yang pada akhirnya berhasil mengantarku ke sini.

Syukurku yang tiada henti-hentinya kupanjatkan kepada Allah SWT. Terima kasihku yang luar biasa besar kepada kedua orangtua, keluarga,–dan kau. Kau yang pernah bersama-sama berjuang denganku di bangku SMA. Kau yang kini kembali memulai perjuangan sendirian.

Entah di bangkit yang ke berapa, yang pada akhirnya berhasil mengantarku ke sini. Yang kutahu, inilah rencana Tuhan yang tak pernah berhasil kuterka. Inilah kebahagiaan yang diam-diam dibungkuskan Tuhan sebagai hadiah untukku.

Semesta benar-benar ingin aku tenggelam dalam dunia komunikasi yang kuangankan dan kuinginkan. Karena aku adalah mahasiswa diploma, maka aku akan belajar segala bidang yang ada di dalam dunia komunikasi. Ini sangat membahagiakan bagiku.

Maka, suatu hari kau mungkin akan melihatku membawakan berita di televisi. Akan kubawakan kau kabar-kabar baik tentang negeri kita. Atau mungkin hanya sekadar kabar tentangku—kalau-kalau saja kau mengkhawatirkanku. Atau rindu barangkali?

Suatu hari, kau mungkin akan melihatku mewawancarai tokoh-tokoh besar dunia. Akan kutanyakan pada mereka, bagaimana cara membuat perubahan kecil yang berdampak besar. Agar bisa kubagi ceritaku padamu. Agar suatu saat nanti, tangan kita bisa saling menggenggam sukses. Atau hanya sekadar menanyakan pada Tuhan, mengapa kau dan aku berpisah.

Suatu hari, kau mungkin hanya akan melihatku bekerja di belakang layar. Akan kusajikan kau tayangan-tayangan yang bisa menjadikan generasi kita sebagai generasi penerus bangsa yang hebat. Atau hanya sekadar hiburan pencetak senyum di bibirmu, penghilang penatmu selepas bekerja. Apa pun pekerjaanmu kelak.

Suatu hari, kau mungkin takkan melihatku di mana-mana. Kecuali di masa lalumu.



Thursday, September 04, 2014

Hari Kedua

Ini hariku yang ke dua di “rumah keduaku”. Sebetulnya tak tega menyebut kamar kosku ini sebagai rumah kedua. Karena bagiku, rumah yang sesungguhnya adalah rumah yang di dalamnya bernaung keluarga sederhana namun sempurna dengan kesederhanaan itu. Dan rumah itu bukan di sini. Takkan pernah ada rumah kedua bagiku.

Aku hanyalah satu dari sekian orang yang terpisah dari kedua orangtua untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit ilmu pengetahuan. Kisahku belum ada apa-apanya dibanding kisah mereka yang lebih dulu berjuang memperoleh pendidikan di perguruan tinggi.

Mungkin ruangan ini akan penuh dengan tangis. Tangis yang pecah tak terbendung saat ingat kampung. Tangis rindu pada orang-orang terkasih. Tangis bahagia saat mendengar suara mereka saja cukup menepis rindu. Maklum saja, tangisku tak pernah tahu malu.

Mungkin ruangan ini akan penuh doa. Doa yang terpanjat memohon segala yang terbaik bagi kedua orangtuaku. Doa yang terlafal memohon kemudahan dalam studiku. Doa-doa tengah malam yang siangnya kurangkai lebih dahulu agar terdengar indah di hadapan Allah. Allah Mahaindah, bukan? Tentu saja.

Mungkin ruangan ini akan penuh peluh. Sehingga nantinya, ruangan bercat hijau inilah yang akan menjadi saksi, bahwa di sini aku pun berjuang membayar tetes peluh kedua orangtuaku dengan suksesku kelak. Aamiin.

Bogor, September 2014

my room 

#salamselfie :p



Thursday, June 26, 2014

Mari Bersyukur!

Malam ini saya menulis ini dalam keadaan lapar, mengantuk, sakit tenggorokan dan sedikit sesak napas karena kedinginan. Sesak napas ini disponsori oleh kegiatan berhujan-hujan ria sore tadi dengan ketiga teman saya. Walaupun tidak benar-benar kuyup karena memakai jas hujan, saya tetap kedinginan.

Jika menuliskan tentang sesak napas ini adalah sebuah keluhan, maka anggap saja saya sebagai si pengeluh. Si pengeluh yang suka mengeluh. Si pengeluh yang tidak pernah merasa cukup. Si pengeluh yang tidak ingat bagaimana cara bersyukur.

Padahal, di luar sana ada orang-orang yang harus membayar untuk bernapas: orang-orang yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tabung oksigen besar di sampingnya. Saya masih bernapas dengan cuma-cuma. Sakit-sakit sedikit seharusnya tidak perlu mengeluh, kan?

Wednesday, May 14, 2014

Kejelasan dan Ketidakjelasan

Apakah yang akan kau lakukan jika suatu hari sesuatu yang tidak jelas datang menghampirimu?

Ada orang yang terbiasa dengan sebuah kejelasan. Sebagian ada yang justru cinta dengan ketidakjelasan. Ada pula yang berada di antara keduanya. Bahkan ada pula yang tidak tahu termasuk di bagian manakah dirinya.

Orang-orang yang terbiasa dengan kejelasan akan sangat benci apabila dirinya ditempatkan pada sebuah situasi dan kondisi yang hanya menghadirkan ketidakjelasan. Mereka akan dengan tegas meminta sebuah kejelasan yang berhak mereka dapatkan. Mereka tak mau bersusah payah mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tidak jelas. Dan orang-orang ini juga sudah siap akan hal baik atau buruk yang akan mereka terima begitu mereka mendengar kejelasan yang mereka peroleh dengan atau tanpa diminta.

Thursday, May 01, 2014

Surat Balasan

Aku terbangun dari tidurku, saat anak-anak mulai riuh karena bus yang kami tumpangi dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Bekasi, sudah hampir sampai. Aku mendapati sepucuk surat di samping kursiku yang kosong. Pada bagian depan amplop tersebut tertulis,

To: Asri Ayu N J

Dari tulisannya aku sempat mengira bahwa itu adalah tulisan tangan Putri. Tapi yang kutahu, anak perempuan di kelas diharuskan menulis surat untuk lawan jenis. Tidak mungkin itu tulisan tangan Putri. Entahlah. Kuputuskan untuk menyimpan surat tersebut dalam tas kecilku dan membacanya di rumah.

Saturday, February 01, 2014

Kenangan

Sebelumnya aku ingin beri tahu sesuatu. Jangan bernegatif thinking soal tulisan ini, ya. Aku sedang baik-baik saja saat menulis ini. Baiklah.

Aku yakin bahwa semua orang punya kenangan tentang suatu hal, suatu benda atau tentang seseorang. Baik kenangan yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Tapi aku bingung. Mengapa orang-orang masih mau untuk repot mengenang sesuatu yang menyedihkan. Mengapa kita tidak mengenang sesuatu yang baik, yang membahagiakan saja? Ya, namanya juga kenangan. Kita akan selalu mengenangnya sekali pun kita tahu bahwa kenangan itu menyakitkan, menyesakkan dan bisa membunuh kita saat itu juga.