Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Monday, May 27, 2013

Maaf dan Terima Kasih

Kautahu? Sangat sulit bagiku untuk berdamai dengan masa lalu. Kau bisa bilang bahwa aku membencinya. Aku membenci setiap hal yang membuatku menjatuhkan air mata di masa itu. Ah, aku bodoh sekali. Sungguh. Pikiranku kacau. Hatiku berantakan. Dan aku masih saja bersikeras bahwa ini adalah salahnya.

Dan kau tahu? Terkadang kita lebih suka mengorek kesalahan orang lain, dan lupa bagaimana caranya bercermin. Memalukan. Dan aku melakukan hal memalukan itu kepada seseorang yang dulu kusayangi habis-habisan.

Walaupun ia memang bersalah, namun alangkah baiknya bila kita bercermin sebelum menghakimi seseorang bukan? Ya, seharusnya begitu. Namun saat itu, sakit hatiku sudah sangat keterlaluan. Aku terbiasa dengan kesakitan. Tetapi bukan kesakitan yang seperti itu. Jadi maafkan aku, atas segalanya. Perlu kusebutkan? Baiklah.




Untuk kamu,

1. Maaf untuk pernah jatuh cinta padamu.

2. Maaf untuk ketidakikhlasanku saat kaumemilih yang lain. Dulu sekali.

3. Maaf atas perasaanku yang belum usai saat itu, hingga kaumeninggalkan kekasihmu.

4. Maaf aku membiarkanmu menebar harapan-harapan yang bahkan tak kausadari.

5. Maaf atas kebodohanku yang tetap mempertahankanmu dalam hubungan yang selalu semu itu.

6. Maaf atas keegoisanku.

7. Maaf telah membuang waktumu.

8. Maaf telah menyakitimu.

9. Maaf atas kepura-puraanku bahwa aku masih sayang, padahal tidak, saat itu.

10. Maaf telah membencimu. Kau boleh membenciku sesukamu.

11. Terima kasih untuk waktumu.

12. Terima kasih telah (pernah) menyayangiku.

13. Terima kasih telah menerimaku dan membiarkanku tinggal di sedikit bagian dari hatimu.

14. Terima kasih untuk luka, duka dan tangis yang sudah tak pernah ada lagi sejak kaupergi.

15. Terima kasih telah melakukan hal yang tak berani dan tak bisa kulakukan sejak dulu sekali; pergi.

Oh iya, maaf untuk menulis ini tanpa rasa sayang seperti dulu. Aku bahagia sekali saat ini. Kautahu mengapa kan? Jadi sekarang aku berdamai dengan masa laluku? Kuharap bisa disebut begitu.

Berdamai tak berarti meminta kembali. Sama sekali tidak. Dan sekali lagi, aku bahagia dengan hatiku yang sekarang.

Inspired by @benzbara_’s blog.


Yang sedang menyambut penghuni hati baru,


Asri Ayu Nuryani

2 comments: