Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Sunday, January 27, 2013

Ketika Ego Menguasai Jiwamu

"Karena kamu tidak pernah lebih tinggi dari ego-mu sendiri." - @sebuahego

-----------------------------

Pernahkah kamu merasa dunia seakan tidak adil padamu? Seakan tidak ada lagi seorang pun yang peduli dan berpihak padamu. Seakan semua orang sibuk mengurusi urusannya yang menurutmu tidak lebih penting darimu. Seakan kamu terabaikan, tak tersentuh, padahal terlihat jelas.

Jika kamu pernah merasakannya, berarti egomu sedang mengambil alih jiwamu. "Itu karena egomu yang berbicara." Begitulah kata seseorang padaku dulu. Ego yang membuatku menyakiti hatinya. Ego yang membuatku bahkan membenci diriku sendiri karena hal itu. Aku benci kalau harus menyakiti orang lain hanya dengan ego khas anak kecil sepertiku.


Seseorang itu membuatku mengerti. Aku mulai belajar bagaimana meredam egoku yang kadang terlampau tinggi. Dalam kondisi seburuk apapun, separah apapun. Aku selalu berusaha untuk itu. Beberapa hari yang lalu, aku mulai merasakan seluruh egoku menguasai jiwaku (lagi). Aku tidak tahu lagi harus menumpahkannya pada siapa. Karena saat ego itu mengendalikan jiwaku, aku merasa tidak punya teman lagi untuk berbagi. Aku sendirian, setidaknya bersama ego yang berapi-api.

Tiba-tiba aku teringat seseorang itu. Aku ingat kata-katanya dulu. Aku harus berusaha meredam egoku sebisa mungkin, apa pun caranya. Aku tidak ingin menyakiti orang lain lagi karena ego ini, terlebih ini menyangkut Ibuku. Aku tak akan tega menyakiti malaikatku, yang bahkan rela mempertaruhkan hidupnya untukku.

Aku bingung. Tapi aku sadar, aku tidak sendirian. Aku punya Tuhan. Aku ber-istighfar berkali-kali. Kemudian, aku merasakan pipiku panas, mataku perih, butiran air bening siap keluar dari mataku. Mengalir deras, membuat aliran sungai kecil di pipiku. Aku menangis. Aku menangis sejadi-jadinya, di kamarku yang menyajikan berbagai jenis kenanganku dengan seseorang itu. Mengingat hal itu, aku menjadi semakin ingin menangis. Lalu aku tersadar, aku merindukannya.

Aku menyeka air mataku. Aku kembali ber-istighfar sembari mengatur nafasku yang semakin memburu tak beraturan akibat menangis. Tanpa sadar aku tertidur dengan bantal yang sudah basah dengan air mata. Saat terbangun, aku menemukan diriku terbebas dari jeratan ego menyusahkan itu.

Saat itu juga aku ingin sekali rasanya meneleponmu, dan mengatakan "Hey, aku udah berhasil meredam egoku. Aku janji nggak akan nyakitin orang lain gara-gara egoku." Ya, tapi itu tidak mungkin. Pada akhirnya, aku hanya mengatakan itu pada dan untuk diriku sendiri, sebagai janjiku, agar menjadi yang lebih baik.

Kamu hanya belum pernah menjadi lebih tinggi dari egomu. Dan kamu juga tidak tahu bagaimana cara menjadi lebih tinggi dari egomu sendiri. You have to find the answer with your way. Kamu pasti bisa untuk berada jauh lebih tinggi di atas egomu.

2 comments:

  1. Ikutan gratisan di blog gue yuk!

    Link : http://sausanhanifah.blogspot.com/2013/01/efoxcity-giveaway-international-giveaway.html

    ReplyDelete
  2. ego itu bsa jadi hal yang luar biasa kalo kita tau cara "menggunakan"nya B|

    ReplyDelete