Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Tuesday, November 12, 2013

Sekilas Tentang Kita

Betapa aku tak suka yang namanya perubahan.

Ini sudah bulan ke empat sejak kenaikan kelas sebelas. Aku sudah duduk di bangku kelas duabelas sekarang. Waktu berlalu begitu cepat, ya? Hey! Sebentar lagi aku kuliah! Aku benar-benar tak sabar. 

Berat sekali menerima bahwa aku terpisah dari teman-temanku. Aku tahu ini berlebihan. Bahkan aku hanya terpisah beberapa meter dari mereka. Aku di kelas atas. Mereka di kelas bawah. Ah, aku memang benar-benar berlebihan.

Sulit sekali beradaptasi di kelas baru. Aku terbiasa bersama mereka sejak kelas sepuluh. Rasanya aneh saat aku tak bisa mengeluarkan jokes yang biasa kami tertawakan. Mungkin ini hanya memang soal waktu. Tapi, sekali lagi, ini sudah bulan ke empat sejak kenaikan kelas itu. Dan aku masih setengah hati bersama teman-teman baruku ini.

Friday, July 05, 2013

Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari



Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Wednesday, June 26, 2013

Jangan Malu Mengucapkan Ini



Kapan terakhir kali kamu berkata “maaf”, “terima kasih”, atau “selamat ulang tahun”  kepada ibumu? Kemarin, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau.... belum pernah? Ya, mungkin ada yang belum pernah sama sekali. Beberapa orang yang sulit mengucapakan kata-kata tersebut mungkin mempunyai sebuah alasan; malu.

Mengapa harus malu? Malu memang sebagian dari iman. Tapi bukan untuk yang seperti ini, menurut saya. Apa yang kamu tunggu? Menunggu Tuhan memanggil? Lalu baru membuang malu dan meminta maaf habis-habisan. Terlambat. Jangan terlalu sibuk tumbuh dewasa, sehingga lupa bahwa orang tuamu juga kian menua. Sementara, panggilan Tuhan tak ada yang tahu. Membayangkannya saja saya tak sanggup.

Tuesday, June 25, 2013

Berhenti Saja


Empat hari berlalu. Tak ada satu pun pesanmu yang masuk ke ponselku. Kau diculik oleh waktu ke mana? Entah. Tak ada sedikit pun keberanian untuk menghubungimu. Bohong bila aku tak merindukannmu. Biar saja. Kutabung kerinduanku untuk pertemuan kita kelak. Walaupun aku tak tahu kapan kita akan bertemu. Pertemuan kita, tak ada tegur-sapa yang selalu kuharapkan. Pun senyum manis yang kurindukan. Ah, aku terlalu kuyu untuk memulai. Dan kau, terlalu tak acuh untuk melakukannya.

Mengapa semua orang mengkhawatirkan hubungan kita? Bahkan tak ada hubungan apa pun di antara kita. Selain teman lama yang kembali menjalin komunikasi. Setidaknya setelah kau mulai menghubungiku lagi. Itu saja. Mereka bilang, kau menaruh hati padaku. Dan setelah hal ini, mereka berkata bahwa mereka mengkhawatirkan kita. Takut kau akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah-sudah.

Monday, May 27, 2013

Maaf dan Terima Kasih

Kautahu? Sangat sulit bagiku untuk berdamai dengan masa lalu. Kau bisa bilang bahwa aku membencinya. Aku membenci setiap hal yang membuatku menjatuhkan air mata di masa itu. Ah, aku bodoh sekali. Sungguh. Pikiranku kacau. Hatiku berantakan. Dan aku masih saja bersikeras bahwa ini adalah salahnya.

Dan kau tahu? Terkadang kita lebih suka mengorek kesalahan orang lain, dan lupa bagaimana caranya bercermin. Memalukan. Dan aku melakukan hal memalukan itu kepada seseorang yang dulu kusayangi habis-habisan.

Walaupun ia memang bersalah, namun alangkah baiknya bila kita bercermin sebelum menghakimi seseorang bukan? Ya, seharusnya begitu. Namun saat itu, sakit hatiku sudah sangat keterlaluan. Aku terbiasa dengan kesakitan. Tetapi bukan kesakitan yang seperti itu. Jadi maafkan aku, atas segalanya. Perlu kusebutkan? Baiklah.

Friday, May 03, 2013

Sanggupkah Aku, Kau dan Waktu Menjawab

Aku sangat kerepotan membereskan hatiku. Sampai suatu ketika kaudatang. 

“Untuk apa kaudatang?” tanyaku. 

“Aku tak tahu.” jawabmu. 

“Untuk membantuku menata ulang hatiku?” tanyaku lagi. Kau diam. “Atau hanya ingin menambah kekacauan yang menyedihkan ini?” Kau masih diam. 

Wednesday, February 20, 2013

Tali Sepatu


Sebulan yang lalu kebahagiaan masih mengisi setiap sudut hatiku, dimana setiap ruangnya hanya namamu yang terpampang indah.

Membiarkan dan merelakanmu pergi, bagaikan melepaskan ikatan tali sepatu yang terlanjur nyaman di kakiku. Saat talinya terlepas, aku tak bisa melangkah. Diam. Tak berkutik. Karena setiap langkah yang kutempuh hanya akan membuatku terjatuh dan terjatuh lagi. Menyisakan luka pedih yang ternyata ikut kaurasakan saat melihatku yang sedang menangis meratapi segalanya.

Sunday, January 27, 2013

Ketika Ego Menguasai Jiwamu

"Karena kamu tidak pernah lebih tinggi dari ego-mu sendiri." - @sebuahego

-----------------------------

Pernahkah kamu merasa dunia seakan tidak adil padamu? Seakan tidak ada lagi seorang pun yang peduli dan berpihak padamu. Seakan semua orang sibuk mengurusi urusannya yang menurutmu tidak lebih penting darimu. Seakan kamu terabaikan, tak tersentuh, padahal terlihat jelas.

Jika kamu pernah merasakannya, berarti egomu sedang mengambil alih jiwamu. "Itu karena egomu yang berbicara." Begitulah kata seseorang padaku dulu. Ego yang membuatku menyakiti hatinya. Ego yang membuatku bahkan membenci diriku sendiri karena hal itu. Aku benci kalau harus menyakiti orang lain hanya dengan ego khas anak kecil sepertiku.

Saturday, January 19, 2013

Aku, Kamu dan Masa Lalumu

Sepertinya kita memang telah benar-benar lupa bagaimana cara membahagiakan satu sama lain.

"Aku tidak lupa bagaimana cara membahagiakanmu. Aku masih bisa membahagiakanmu." sangkalmu kala itu.

Kalau begitu, kamu mungkin hanya tidak tahu untuk apa kamu melakukannya. Karena selalu saja hanya kecewa yang berulang kali kuhadirkan tanpa sengaja untukmu. Lagi dan lagi. Hingga kamu bosan, lelah bahkan muak dengan semua ketidakjelasan yang bahkan kauciptakan sendiri.

"Aku telah melakukan semuanya, apapun untukmu. Demi kamu."