Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani.

Sunday, October 15, 2017

Kids Jaman Now dan Kesantunannya yang Minimalis

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah “kids jaman now” dan apa pula definisinya. Orang-orang mengartikannya sebagai “anak jaman sekarang”. Padahal kata “kids” dalam bahasa Indonesia berarti “anak-anak”, di mana “anak-anak” tidak sama dengan “anak”. Jadi pengalihbahasaannya dirasa kurang tepat. Belum lagi penggunaan kata “jaman” yang merupakan bentuk tidak baku dari kata “zaman”. Walaupun memang sejatinya bahasa pergaulan tidak memerhatikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sama pula halnya beberapa lirik lagu berbahasa Inggris yang ditulis tanpa memerhatikan grammar. ((((Masak, sih?)))) Tapi sungguh, bukan keahlian dan kompetensi saya untuk bercakap panjang lebar mengenai kebahasaan. Kita percayakan saja hal tersebut kepada bapak kebanggaan kita, Bapak Ivan Lanin


Benar atau salah, istilah tersebut tak lain hanyalah sebagai ungkapan sarkasme yang ditujukan kepada sejumput oknum generasi millenials yang konon banyak tingkahnya. Disebut oknum karena memang tidak semua generasi millenials banyak tingkah, walaupun sangat banyak jumlahnya. Huft. Dan percayalah bahwa kita tidak akan menemukan kalimat “Hih, dasar kids jaman now!” yang ditujukan untuk siswa SD di Gresik yang membuat robot penumpas kejahatan, atau Naufal Raziq si bocah penemu listrik dari pohon kedondong. Sebaliknya, kalimat tersebut terlontar ketika ada anak SD yang sudah berani-beraninya pacaran dengan panggilan ayah-bunda, atau ketika anak SMA lihai memulas wajah, tentunya dengan make up yang dibeli dari hasil keringat orangtuanya.

Pertanyaannya ialah, apakah sebegitu buruknya mereka sampai kita perlu menyindir dengan ungkapan-ungkapan sarkasme? Atau kita saja yang terlalu sentimental kepada mereka hanya karena apa yang mereka lakukan tidak seperti yang kita lakukan saat seusia mereka?—di waktu dulu, yang mana keadaannya jauh berbeda dengan sekarang. Ditambah lagi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang demikian hebat yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam mencipta sebuah pola komunikasi.

Tidak terlalu buruk, kalau saja mereka masih menyisakan satu hal yang ingin dipertahankan dari dirinya sebagai anak muda yang dikelilingi orang-orang yang usianya lebih tua; kesantunan dalam berkomunikasi. Hal itu amat penting. Itu mengapa lembaga pendidikan sekelas UI saja tidak mau mahasiswanya kehilangan kesantunan, dengan membuat aturan tentang tata cara menghubungi dosen yang baik dan benar.

sumber gambar

Sebagai seorang (yang pernah jadi) mahasiswa, di kampus, saya dan teman-teman juga kerap diberitahu dan diperingatkan tentang tata cara berkomunikasi dengan dosen melalui ponsel. Beberapa dosen juga acap mengulang-ulangnya sebab selalu saja ada mahasiswa yang menghubungi dosen seenaknya. Tapi tidak jarang, mahasiswa yang bahkan sudah menghubungi dosen sesuai dengan tata cara tersebut, harus menyediakan kesabaran yang paling luas dalam dirinya, sebab meskipun sudah sesuai tata cara, terkadang respon sang mahaguru tidak sesuai ekspektasi.

Berikut merupakan contoh cara mengubungi dosen yang baik dan benar, yang kemudian dijawab hanya dengan sebuah kata yang membuat usaha mengetik pesan, yang ditambah deg-degan keringat dingin, menjadi sangat sia-sia. Hffft. Tidak apa-apa, mungkin belio terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga waktu senggangnya hanya cukup untuk memencet tiga huruf di layar gawainya. Baiklah, yang penting saya tidak termasuk ke dalam kids jaman now yang kehilangan kesantunan.


Selain itu, saya juga sempat sedikit tidak nyaman dengan beberapa adik kelas yang menghubungi saya melalui LINE akibat tulisan review semester satu saya saat kuliah. Ada yang sangat sopan, sampai saya memikirkan apakah balasan chat saya sudah cukup sopan atau ada diksi lain yang lebih sopan. Namun ada juga yang, yah.... Begitulah.


Lagi, belum lama saya juga terlibat di salah satu kegiatan di organisasi saya saat SMA dulu. Ada adik kelas yang sangat sopan, namun ada pula yang perilakunya menunjukkan kadar kesantunan yang terjun bebas, membuat pusing dan mual. Saya menyampaikan hal ini kepada teman-teman angkatan saya di organisasi tersebut, ternyata mereka juga merasakan hal serupa, mual, muak. Lalu kami muntah bersama-sama. (Apaan nih?-_-)

Tapi rasanya tidak adil jika apa yang saya tulis ini terasa menyudutkan mereka dan seolah saya suci sendirian. Padahal saya Asri, bukan suci. Ih apa sih. Iya, intinya saya jadi berpikir bahwa perlakuan demikian yang saya dapatkan tentunya bukan semata-mata tanpa alasan. Saya juga tentu pernah berperilaku yang tidak semestinya, yang mungkin perlakuan itulah yang pada akhirnya kembali ke diri saya sendiri. Jadi saya tidak punya pilihan lain selain legowo.

Dear, kids jaman now, percayalah, sejatinya tidak ada manusia yang gila hormat. Tidak ada. Tapi, bukankah kalian juga ingin dihormati dan dihargai? Dan walaupun bukan siapa-siapa, bukankah hak dan kewajiban kita semua untuk bersikap saling menghargai?


Asri Ayu,
Generasi Millenials yang Berupaya Melestarikan Kesantunan

Thursday, September 28, 2017

padahal kau datang

padahal kau datang
melayat berpakaian serbahitam
atas kematian sebuah hati
yang dengannya kau pernah rela berbagi nyawa

padahal kau datang
menyaksikan angin--yang menyangsikan
air matamu itu, tuan,

Thursday, July 13, 2017

dulu dan sekarang

aku yang dulu bukanlah yang sekarang~
saya tidak menemukan lagu lain yang pas untuk mengawali tulisan ini, selain lagu dedek tegar yang mudah-mudahan setegar namanya. baiklah, apa pun lagunya jangan kebanyakan minum teh botol, nanti batuk. alih-alih batuk, saya justru kelihatan mabuk karena telah menulis paragraf yang tidak penting ini. bikin ngantuk!

oke maaf.

tidak adanya kegiatan yang produktif karena saya baru saja lulus, membuat saya menjadi pengangguran. katanya, doing nothing is actually doing a thing. okay. that thing yang selalu saya lakukan setiap hari selain bernapas, ialah berpikir. akhir-akhir ini saya berpikir hal yang belum pernah saya pikirkan akan memikirkannya: menikah.

Thursday, May 18, 2017

Yuk Lawan TB!

Assalamu'alaikum. Halo, selamat sore.

Kali ini saya mau membagi pengalaman saya ke temen-temen. Perlu beberapa kali mikir untuk share ini. Sampe akhirnya saya berusaha positive thinking, bahwa siapa tau temen-temen ada yang butuh informasi ini. Dan semoga aja cerita saya ini bisa bermanfaat buat temen-temen. Oh ya, sebenernya ini berkaitan banget sama curhatan saya di sini. (Hehe ketauan deh sekarang.) Selamat membaca!

Oiya, sebelumnya mau kasih tau aja kalau ini tulisan tentang kesehatan, tapi saya sama sekali bukan dari kalangan medis, jadi tulisan ini ditulis berdasarkan apa yang saya alami aja ya. Okay? Okay.

Wednesday, May 10, 2017

memuisikanmu?

bagaimana caramu meyakinkan dirimu kalau kau benar-benar telah jatuh cinta?

aku yakin aku telah benar-benar jatuh cinta ketika aku telah berhasil menerjemahkan sosok itu ke dalam kata-kata. setidaknya ke dalam sebait sajak. tak kurang, sebuah buku kuhabiskan untuk memuisikan lelaki sebelum kamu. tiap lembarnya kutulis dengan hati, meski sesekali beberapa lembarnya harus basah ketika kumenulis dalam resah sebab lelakiku berulah.

dan yang terpenting ialah, ia tahu bahwa aku selalu menuliskan tentang dirinya. ia menyukainya. ia bahkan memintaku menulis tentangnya di blog ini. padahal tanpa ia minta, suatu hari pasti aku akan melakukannya. dengan sepenuh hati, sepenuh cinta. gilanya lagi, bahkan setelah memutuskan untuk saling melepas, aku masih ingin menulis tentangnya seolah-olah aku dan ia belum tuntas. lagi dan lagi. tulisan ini salah satu buktinya.

Wednesday, February 22, 2017

Sepenggal Kisah tentang Perjalanan

Dulu aku sangat ketakutan bila kelak, jika kata “kita” tak lagi bermakna aku dan kau, tak sehuruf pun dari rangkaian namaku diizinkan menumpang di benakmu. Namun ketakutanku koyak, tersundut puntungan mimpi yang kupungut setiap lewat di jalan-jalan.

Aku ingin jadi ini. Aku ingin jadi itu. Aku ingin menjadi apa pun. Sebab kutahu kau akan selalu mengenaliku. Ingin-inginku bahkan belum sempat beranjak dari tempatnya dipanjatkan, tapi kau sudah keburu pergi. Tak apa, aku bisa sendiri.

Tuesday, December 20, 2016

Kecewa

kecewa; sebuah kata yang sebenarnya takkan cukup untuk membahasakan semua rasa. ini keterlaluan. aku seharusnya marah. atas apa yang begitu melukai hati. atas apa yang kau anggap bukan apa-apa. bagiku, ini semua mahal harganya. (suatu hari kau harus membayarnya.)

tidak, aku tidak mendendam. hanya saja, aku tak yakin lukaku mengering hanya dalam semalam. lagipula begitu kan hukum dari alam? kau hanya akan menuai apa yang kau tanam.

aku seharusnya marah. tapi kau tahu kan, marah tak pernah jadi keahlianku. dan menyoal hati, aku memang bukan yang pandai. tapi aku tahu kapan harus idealis, kapan harus realistis; memangkas segala andai.

kepada sesiapa pun yang hatinya pernah membiru sebabku, aku tengah membayar apa yang pernah kulakukan dulu. kini aku tahu, memercayai seseorang perlu selaksa keberanian. berani untuk dikhianati, berani untuk dicurangi. segala yang kupunya tak cukup untuk memberi harga pada keberanian itu. maka terima kasih telah memberanikan diri untuk percaya. meski akhirnya kecewa kusajikan di atas meja.

aku juga seberani itu percaya. dan sedalam ini kecewa.