Blogger Widgets
Semesta Kata. A blog by Asri Ayu Nuryani

Thursday, May 18, 2017

Mengenal TB Lebih Dekat

Assalamu'alaikum. Halo, selamat sore.

Kali ini saya mau membagi pengalaman saya ke temen-temen. Perlu beberapa kali mikir untuk share ini. Sampe akhirnya saya berusaha positive thinking, bahwa siapa tau temen-temen ada yang butuh informasi ini. Dan semoga aja cerita saya ini bisa bermanfaat buat temen-temen. Oh ya, sebenernya ini berkaitan banget sama curhatan saya di sini. (Hehe ketauan deh sekarang.) Selamat membaca!

Oiya, sebelumnya mau kasih tau aja kalau ini tulisan tentang kesehatan, tapi saya sama sekali bukan dari kalangan medis, jadi tulisan ini ditulis berdasarkan apa yang saya alami aja ya. Okay? Okay.

Wednesday, May 10, 2017

memuisikanmu?

bagaimana caramu meyakinkan dirimu kalau kau benar-benar telah jatuh cinta?

aku yakin aku telah benar-benar jatuh cinta ketika aku telah berhasil menerjemahkan sosok itu ke dalam kata-kata. setidaknya ke dalam sebait sajak. tak kurang, sebuah buku kuhabiskan untuk memuisikan lelaki sebelum kamu. tiap lembarnya kutulis dengan hati, meski sesekali beberapa lembarnya harus basah ketika kumenulis dalam resah sebab lelakiku berulah.

dan yang terpenting ialah, ia tahu bahwa aku selalu menuliskan tentang dirinya. ia menyukainya. ia bahkan memintaku menulis tentangnya di blog ini. padahal tanpa ia minta, suatu hari pasti aku akan melakukannya. dengan sepenuh hati, sepenuh cinta. gilanya lagi, bahkan setelah memutuskan untuk saling melepas, aku masih ingin menulis tentangnya seolah-olah aku dan ia belum tuntas. lagi dan lagi. tulisan ini salah satu buktinya.

Wednesday, February 22, 2017

Apa Saja

Dulu aku sangat ketakutan bila kelak, jika kata “kita” tak lagi bermakna aku dan kau, tak sehuruf pun dari rangkaian namaku diizinkan menumpang di benakmu. Namun ketakutanku koyak, tersundut puntungan mimpi yang kupungut setiap lewat di jalan-jalan.

Aku ingin jadi ini. Aku ingin jadi itu. Aku ingin menjadi apa pun. Sebab kutahu kau akan selalu mengenaliku. Ingin-inginku bahkan belum sempat beranjak dari tempatnya dipanjatkan, tapi kau sudah keburu pergi. Tak apa, aku bisa sendiri.

Tuesday, December 20, 2016

Kecewa

kecewa; sebuah kata yang sebenarnya takkan cukup untuk membahasakan semua rasa. ini keterlaluan. aku seharusnya marah. atas apa yang begitu melukai hati. atas apa yang kau anggap bukan apa-apa. bagiku, ini semua mahal harganya. (suatu hari kau harus membayarnya.)

tidak, aku tidak mendendam. hanya saja, aku tak yakin lukaku mengering hanya dalam semalam. lagipula begitu kan hukum dari alam? kau hanya akan menuai apa yang kau tanam.

aku seharusnya marah. tapi kau tahu kan, marah tak pernah jadi keahlianku. dan menyoal hati, aku memang bukan yang pandai. tapi aku tahu kapan harus idealis, kapan harus realistis; memangkas segala andai.

kepada sesiapa pun yang hatinya pernah membiru sebabku, aku tengah membayar apa yang pernah kulakukan dulu. kini aku tahu, memercayai seseorang perlu selaksa keberanian. berani untuk dikhianati, berani untuk dicurangi. segala yang kupunya tak cukup untuk memberi harga pada keberanian itu. maka terima kasih telah memberanikan diri untuk percaya. meski akhirnya kecewa kusajikan di atas meja.

aku juga seberani itu percaya. dan sedalam ini kecewa.

Tuesday, July 12, 2016

cerita dari anyer

matahari sedang cerah-cerahnya. angin berembus, bergerak mempermainkan seluruh yang melekat pada tubuhku. ombak menggulung dirinya, berupaya menjangkau aku. kupasrahkan kaki-kakiku, kubiarkan keduanya basah tersapu ombak. ah, begini rasanya pantai.

Wednesday, June 29, 2016

selamat 35 tahun pernikahan

setiap dalam perjalanan pulang, aku menerka-nerka apa yang berubah di rumah. mungkinkah letak pigura yang tegeser oleh angin yang marah? atau mungkin susunan buku-buku di rakku yang murah? atau apakah mawar di halaman masih menguarkan aroma harum?

Monday, June 06, 2016

rumah dan tuannya

selamat malam. bagaimana kabarmu?

maaf telah menghilang begitu saja. aku merasa bersalah telah berharap kau akan pulang ke rumahmu; aku. sedang kenyamanan akan rumah yang baru nampaknya telah melenakanmu.

benar, aku rumah yang pasrah. tiada hakku memilih siapa tuanku. jika kau orangnya, aku siap membuka pintuku untuk kepulanganmu. kapan saja; di tengah malam, ketika hujan badai sekalipun.